Tomi Ramadona

Membuka Lembaran Baru

 

Autobiography Part 3 (Memulai Perjalanan Setelah Sarjana)                                         Posted date :  Shafar 1432 H

Saat itu bertepatan dengan hari Sabtu, di penghujung Juli 2009. Saya diwisuda bersama ribuan wisudawan/wati Universitas Riau lainnya, suka cita dan kepuasan mengukir hari itu. Betapa tidak, perjuangan selama ini telah sampai pada titik akhir. Orang tua dan beberapa kerabat ikut berbagi kebahagiaan. Tidak disangka, waktu begitu cepat berlalu. Sudah masuk tahun ke-4 di Negeri Junjungan. Seremonial kebahagiaan ini tidak berlangsung lama, sebab agenda lain sudah menunggu.

Hari Senin dua hari setelah wisuda, saya bersama tim berangkat menuju Kerinci Kabupaten Pelalawan Riau. Kami tergabung kedalam tim surveyor dan analis lingkungan kerjasama PT.RAPP dan Universitas Riau. Tim kami terdiri dari dosen, karyawan, alumni dan mahasiswa Agrobisnis Perikanan. Saya, Bang Sabran, Bang Suprianto dan Bang Arief merupakan tim teknis lapangan. Selama satu bulan kedepan kami akan fokus pada proyek tersebut. Ini merupakan pengalaman kerja pertama saya setelah bertitel sarjana.

Dari Pekanbaru kami berangkat dengan sepeda motor, sebab di lapangan nanti akan butuh kendaraan ini. Lebih kurang 3 jam perjalanan sampailah kami di Kerinci., sebuah kota di ruas jalan. Selama proyek ini kami menginap di Hotel Meranti, letaknya tidak jauh dari komplek RAPP. Selama menginap disana, pernah juga beberapa group band nasional seperti Hijau Daun singgah untuk bermalam sebelum berangkat menuju konser di Inhu. Sehingga keramaian dari fans mereka menjadi suatu pemandangan yang menarik. Dalam proyek ini kami mencari dan menganalisis data mengenai kondisi sosial masyarakat sekitar RAPP, adapun target kami di lapangan mencari data mengenai dampak yang ditumbulkan perusahaan terhadap masyarakat sekitar. Penelusuran kami bukan hanya disekitar Kerinci saja, tetapi juga sampai ke Siak dan Buton pedalaman.

Melalui proyek ini saya mendapat pengalaman menjumpai berbagai karakteristik masyarakat, mulai dari latar belakang suku, pekerjaan, agama dan lain sebagainya yang memiliki ciri khas masing-masing. Selain itu, sempat juga kami jumpai adik-adik Unri yang sedang melakukan Kukerta di daerah tersebut, dengan antusias mereka menyambut kami. Barangkali ada satu kerinduan akan kampus tercinta.

Alhamdulillah tidak ada kendala berarti yang kami temui di lapangan, satu bulan yang ditargetkanpun rampung dilaksanakan. Berbagai data-data yang dibutuhkan selesai dikumpulkan. Akhir Agustus kami bersiap-siap libur lebaran dan Idul Fitri di kampung halaman.

Libur kali ini benar-benar saya manfaatkan bersama keluarga, sebab adakalanya kita perlu berhenti sejenak, mengumpulkan energi menyonsong perjalanan yang lebih panjang. Saya habiskan liburan kali ini dengan bersilaturrahim dengan sanak saudara, handai tolan dan sahabat-sahabat lama. Jarang ada kesempatan bersua mereka semua kalau tidak dalam momen ini.

Sehabis lebaran, di bulan September kembali saya ke Kota Bertuah Pekanbaru. Adapun rencana awalnya ialah meminta rekomendasi dan masukan dari dosen untuk melanjutkan studi ke jenjang S2, ternyata pendaftaran SPs IPB sudah tutup, saya tidak ada berniat melanjutkan studi di kampus lain, barangkali memang belum kesempatan kuliah waktu itu. Walaupun kemudian saya tetap diberi rekomendasi oleh Prof. Usman Tang (Kepala Lemlit), Ketua jurusan Pak Firman Nugroho dan sekretaris jurusan Pak Victor Amrivo. Pada bulan itu  ijazah dan legalisir sudah didapatkan dari kampus, kemudian saya temui dosen dan pihak-pihak yang selama ini telah membantu dan membimbing saya untuk mengucapkan apresiasi dan terimakasih.

Sambil menunggu untuk melanjutkan studi, saya putuskan  mencari pengalaman kerja selama setahun ke depan. Kebetulan dikala itu saya memperoleh informasi ada lowongan kerja di Bank Muamalat. Maka tiada salahnya kalau dicoba,  inilah pertama kalinya saya membuat surat lamaran kerja dan menggunakan legalisir ijazah yang baru didapatkan. Proses demi proses seleksi saya lalui, akhirnya pihak bank menghubungi bahwa saya diterima di kantor cabang Batam.

Mendapat kabar ini, saya langsung menghubungi ibunda. Sebab dikala menyangkut keputusan penting dalam hidup saya, pertimbangan dan ridhonya merupakan prioritas yang perlu saya dapatkan. Ternyata ibunda tidak mengizinkan saya ke Batam, beliau sedikit khawatir dengan kehidupan disana. Alhamdulillah saya tidak berkecil hati, dengan ikhlas saya patuhi sebab saya yakin Allah akan pilihkan jalan terbaik bagi hambaNya. Seperti juga yang disampaikan Rasulullah “Bahwa suatu jiwa sama sekali tidak akan mati sehingga disempurnakan rezekinya, maka bertakwalah kepada Allah, baguskanlah dalam meminta dan janganlah menganggap lamban datangnya rezeki, sehingga kalian mencarinya dengan jalan mendurhakai Allah. Karena apa yang ada di sisi Allah tidak akan bisa diperoleh, kecuali dengan menaatiNya”.

Setelah satu pekan di Pekanbaru, saya langsung pulang ke Payakumbuh, kebetulan ada beberapa urusan juga di rumah. 30 September 2009 terjadilah gempa dahsyat di Sumatera Barat, pusatnya di Padang dan Pariaman. Luar biasa dampak dari gempa tersebut, betapa banyak korban jiwa dan materil. Kejadian ini mengingatkan saya akan kuasa Illahi, dunia ini benar-benar hanyalah persinggahan saja. Sangat mudah bagiNya mencabut nyawa manusia serta menghilangkan dengan sekejap harta yang sudah dihimpun bertahun-tahun.

Hari kedua setelah gempa, saya bersama bang Altoyo langsung menuju Padang. Kami tergabung dalam tim vollunter BSMI Pekanbaru dan KAMMI Sumbagut. Mengingat medan yang sulit dan kemacetan dimana-mana, maka perjalanan ini kami tempuh dengan sepeda motor, harga bensin saat itu mencapai 15-20 rb/liter. Sesampai di Padang tujuan pertama  menuju sekretariat KAMMI Sumbar, karena di sana sudah berkumpul teman-teman aktivis Kampus Padang. Posko bersama yang telah didirikan sejak hari pertama gempa penuh diisi oleh logistic bantuan. Kami memulai langsung proses emergency yang dipimpin oleh Korwil KAMMI Sumbagut Bang Effendi Muharram,S.Pi. Berbagai kegiatan  dilaksanakan, seperti penyediaan air bersih, tenda darurat, trauma heilling, pembagian sembako dan pengobatan gratis.

Beberapa hari di Padang, saya sempatkan juga mengunjungi sanak saudara serta sahabat-sahabat yang ikut terkena dampak gempa. Alhamdulillah tidak ada korban jiwa diantara mereka. Walaupun secara materil banyak mengalami kerugian. Kota Padang saat itu seperti kota mati, tidak tampak geliat aktifitas masyarakat, semuanya terdiam dalam kepasrahan. Listrik dan komunikasi yang terputus beberapa hari menambah lengkap ujian itu.

Setelah satu minggu di Padang, proses emergency kota berjalan dengan baik. Kondisi sudah berangsur normal. Kami beserta beberapa orang dari tim memutuskan melanjutkan ekspedisi ke Pariaman, karena di sana masih banyak areal yang belum tertanggulangi sepenuhnya. Berangkat menuju Pariaman dengan suasana tidak menentu, membuat kami lebih sering membisu. Sepanjang jalan terlihat puing-puing rumah dan gedung-gedung yang sudah tak berbentuk. Semakin dekat ke Pariaman semakin parah kondisi bangunannya, maka semakin miris juga hati ini melihatnya.

Sesampai di Pariaman kami bekerjasama dengan beberapa organisasi dan yayasan lainnya, seperti Swadaya Ummah Pku, PKPU Sumbar, Qatar Aidh, Qatar Charity, Fajar Hidayah dan DPC PKS. Kerjasama ini sangat penting mengingat medan yang berat dan satuan kerja yang padat. Beberapa posko tambahan pun dibangun seperti di Sungai Geringging Pariaman.

Betapa pilu hati ini menyaksikan musibah yang diterima oleh saudara-saudara disana. Namun inilah ketetapanNya, barangkali banyak hikmah terpendam dibalik ujian ini. Bersama tim Swadaya Ummah kami  menemukan beberapa jasad yang tertimbun tanah, mereka berada di luak nan tigo, dimana satu desa tertimbun longsor akibat gempa. Pernah juga kami tinggal di posko/barak pengungsian, bercampur lara dengan para korban. Hanya uluran tenaga dan senyuman yang diharapkan sedikit mengobati luka derita mereka.

Tidak terasa satu bulan telah berlalu di area duka, ada tawaran untuk kembali melanjutkan proyek di Pekanbaru serta ada pula saudara minta ke Jakarta. Tapi bagaimana kaki ini bisa melangkah, sedang hati masih terpaut dengan saudara disini. Kembali saya berfikir , apa yang sebenarnya saya cari di dunia ini. Kalaulah hanya materi semata, alangkah mudah bagi Sang Khalik untuk mendatangkan dan menghilangkannya. Kemudian saya kuatkan hati untuk bertahan. Apapun yang terjadi, tunggulah sampai Allah menetapkannya.

Untuk wilayah Pariaman, banyak organisasi dari dalam dan luar negeri yang datang. Barangkali ada skenario yang dibuat Pemda beserta niniak mamak dan alim ulama disini. Kekuatan gempa yang awalnya dinyatakan BMG 7,6 SR ditampik oleh beberapa institusi asing, mengingat efek yang luar biasa dari gempa tersebut. Akhirnya berubah menjadi 7,8 dan terakhir 7,9 SR. Dalam aturan internasional, jika terjadi gempa > 8 SR, maka institusi internasional berhak masuk secara bebas ke dalam suatu negara tampa ada regulasi yang mengikat. Hal ini sangat tidak diinginkan masyarakat Minang, sebab berkaca dari efek musibah tsunami yang terjadi di Aceh beberapa tahun silam.

Hanya saja, apa yang diharapkan tidak berjalan dengan semestinya. Walaupun sudah dilakukan filterisasi, tetap saja misionaris dari beberapa keyakinan datang dengan berbagai bendera ke negeri yang berpenduduk muslim ini. Tidak heran kalau di lapangan sering dijumpai sekantong mie instan plus kitab mereka didalamnya. Sungguh benar-benar tidak menghargai perasaan umat Islam, mengambil kesempatan di dalam kesempitan. Akhirnya kami pun harus bergerak secara massif, menambah program bukan hanya emergenci dan recovery saja, tetapi juga internalisasi.

Satu hal yang cukup berat bagi kami dalam menjalankan misi ini adalah kondisi keyakinan masyarakat Pariaman, dimana masih banyak yang menganut tarekat dan ada juga golongan syiah. Hal ini memberi dampak terhadap kelancaran program-program di lapangan. Beberapa organisasi luar justru ada yang menghentikan bantuannya ditengah jalan mengingat ketimpangan keyakinan ini, seperti halnya Qatar Aidh, Qatar Charity atau IDB.

Lain dari pada itu, ada suatu kelembagaan yang secara tradisi telah merekat erat dalam kehidupan, dimana masyarakat Minang yang sangat bangga dengan adatnya ini, memiliki pola-pola dan aturan menyangkut perkembangan daerah. Ringkasnya, dalam tambo dan aturan adat yang berlaku, tanah merupakan harta pusako tinggi yang jatuh ke pihak perempuan. Sehingga sangat nyamanlah kaum bundo kanduang disana, karena dihitung berdasar garis matrilineal. Mungkin ini juga yang menjadi jawaban dari teka-teki mengapa pemuda minang lebih cendrung merantau, karena tidak memiliki tanah dikampung halaman terpaksa mencari tanah di kampung orang. Maka selamatlah saya, karena kami dikeluarga putra semua, tidak memiliki mamak dan garis kesukuan yang mengikat. Tapi, walau bagaimanapun saya akan tetap merantau jua, ingin menyelami samudera kehidupan..

Dengan aturan adat seperti itu, sisi positifnya membuat investor asing tidak dengan bebas menanam saham di daerah, sehingga kondisi masyarakat tidak banyak terpengaruh faktor eksternal. Namun, disisi lain kondisi ini juga mengakibatkan terhambatnya perkembangan dan modernisasi suatu daerah. Sehingga wajar, jika dahulunya Padang yang menjadi salah satu kota terbesar di Nusantara kini menjadi kota tua, begitu juga Bukittinggi, Payakumbuh dan kota besar lainnya.

Adakalanya menyangkut aturan adat ini saya sering bertanya kepada penghulu dan niniak mamak, tentang sebuah nagari yang bernama ranah minang. Negeri yang dikenal dengan adat basandi syarak (bersendikan syariat), syarak basandi kitabullah (Al Qur’an) justru pada beberapa hal memiliki kontradisi dengan falsafahnya itu. Seperti dalam hal hukum waris, mengenai garis keturunan ataupun masalah pernikahan intra suku. Padahal, menyangkut hal ini jelas-jelas dirincikan dalam Alquran. Wallahualam, saya belum mendapat jawaban yang memuaskan akan hal ini.

Saya bukannya orang yang tidak suka dengan adat istiadat ini. Pola-pola kehidupan dan kebudayaan ini merupakan suatu hal yang saya gemari mengkajinya, begitu juga dengan buku-buku tambo, budaya alam Minangkabau dan beberapa roman yang kaya akan nilai kehidupan ini. Hanya saja, beberapa kalangan yang terlalu berlebihan dalam memposisikan adat membuat saya kurang nyaman. Mungkin wajar, jika beberapa tokoh minang sering mengkritisi akan hal ini. Sebut saja Buya Hamka, dalam beberapa romannya seperti Tenggelamnya Kapal Van der Wijk, Dibawah lindungan Ka’bah dan lainnya. Begitu juga dulu, bisa saja hal ini juga yang menjadi penyebab meletusnya Perang Padri. Kadangkala dengan fanatisme yang berlebihan menyebabkan adat lebih diutamakan dari agama. Padahal, telah disebutkan bahwa ‘Syarak bajanjang naiak adat batangga turun, adat mamakai syarak mangato’.  Sehingga adat dan agama yang kokoh dapat bersenyawa dalam kehidupan.

Hari demi hari dan lembaran bulan-pun berganti. Tidak terasa sudah beberapa lama saya dikampung halaman, bersama dengan saudara-saudara dan sahabat dalam suka dan air mata. Kini sebagian besar dari tim sudah merampungkan tugasnya. Artinya tibalah saatnya bagi kami untuk bersiap-siap dengan aktivitas dan arah kehidupan masing-masing. Rekan-rekan vollunter dari KAMMI, BSMI dan Swadaya Ummah sebagian besar sudah beranjak meninggalkan Sumbar, bersiap dengan perjuangannya masing-masing. Begitu juga dengan saya dan bang Altoyo, kamipun berencana akan segera ke Payakumbuh menyusun kembali rencana kedepan.

Menjelang hendak ke Payakumbuh, tiba-tiba kami di lamar oleh SIT Fajar Hidayah, Lembaga ini mengajak kembali untuk bersama-sama melanjutkan pembangunan nagari. Kami diminta ikut menjadi bagian tim FH Sumbar dalam program edukasi. Saya dan Bang Altoyo mencoba mempertimbangkan hal ini dan meminta masukan dari keluarga. Ibunda memberi respon yang positif dan sangat mendukung saya di FH, katanya walaupun tidak sesuai dengan background tapi saya memiliki darah akademisi, umumnya keluarga berprofesi sebagai tenaga pengajar. Alangkah tugas yang mulia dan bisa melanjutkan tradisi ucap beliau. Selain itu saya juga simpati dengan Fajar Hidayah, sebab dalam beberapa interaksi dengan karyawannya, ada semacam ruh yang sama terlahir dalam berbagai aktivitas. Semenjak itu kami memutuskan bergabung dan resmilah kami menjadi bagian dari keluarga besar Fajar Hidayah.

Bersama rekan-rekan di FH, kami melanjutkan program yang telah berjalan. Kegiatan-kegiatan dilaksanakan, seperti  pembagian sembako/logistic, sekolah darurat, training untuk guru di Pariaman sampai konferensi internasional dan workshop untuk guru se-Sumatera Barat. Kegiatan ini tidak hanya dilaksanakan di lokasi gempa saja, tetapi juga sampai ke Bukittinggi dan terakhir di Payakumbuh.

Dua bulan sudah, telah saya lalui bersama FH Sumbar, Kebetulan Presdir -nya berasal dari Payakumbuh, Pak Mirdas Eka Yora LC M.Si biasa saya sapa Da Eri atau Ustadz. Dalam pelaksanan program dilapangan, turut dibantu oleh rekan-rekan dari  FH Pusat. Beberapa diantaranya adalah Bu’ Emi Maschuroh, Miss Ita, Pak Rony, Pak Mumu, Ustad Nuryasin LC, Ustad Syamsul Alhafidz dan tim trainer PTC FH.

Setelah selesai program di Sumatera Barat, pada bulan Januari 2010 Fajar Hidayah mengadakan raker di Cibubur. Saya bersama tim FH Sumbar ikut berpartisipasi dalam kegiatan itu. Di sanalah kami ditawarkan untuk rencana kerja selanjutnya, apakah akan memilih di FH Pusat atau di cabang lain seperti Aceh. Maka, setelah mendapat restu dari keluarga, saya memutuskan untuk ke Aceh. Ada banyak pertimbangan, salah satunya ingin merasakan nuansa Tanah Rencong Bumi Serambi Mekah yang juga merupakan satu-satunya daerah yang belum pernah saya kunjungi di Pulau Sumatera.

 

Autobiography Part 4 (Perantauan ke Nangroe Aceh Darussalam)                                Posted date :  Shafar 1432 H

Tidak terkira riangnya hati ketika terbayang Bumi Darussalam hendak dituju. Hari itu akhir Januari 2010. Setelah mempersiapkan bekal secukupnya, saya berpamitan dengan keluarga. Rute perjalanan adalah Payakumbuh-Pekanbaru-Medan–Banda Aceh. Dari Payakumbuh sampai Medan, saya tempuh melalui jalur darat, baru selanjutnya menggunakan pesawat udara menuju Banda Aceh. Di dalam perjalanan ke Aceh ini, saya sempatkan transit beberapa lama di Pekanbaru dan Medan, menjumpai teman-teman dan sanak keluarga di sana.

Malam itu bertepatan dengan hari Jum’at, sekitar jam 20.00 WIB, saya telah menghirup udara Tanah Rencong. Di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) saya dijemput oleh Da Id atau lebih dikenal Ustd Rahmatul Hidayat,LC. Beliau merupakan kepala divisi FH Aceh. Beberapa hari pertama ini, saya menginap di FH Ampeu Awee dan FH Blang Bintang.

Untuk divisi Aceh sendiri terdapat 3 komplek FH. Yaitu FH Lhoong khusus untuk putra/ikhwan, FH Blang Bintang khusus untuk akhwat dan FH Ampeu Awee untuk putra dan putri yang terintegrasi dengan pondok pesantren (dayah). Ketiganya terletak di Kab. Aceh Besar, walaupun untuk Blang Bintang dan Ampeu Awee sangat dekat dengan Banda Aceh.

Fajar Hidayah divisi Aceh merupakan sekolah yang diperuntukkan bagi siswa/I yatim, piatu dan dhuafa. Banyak juga dari mereka merupakan anak-anak korban tsunami dan korban konflik. Sekolah ini gratis dari biaya apapun termasuk penginapan dan konsumsi. Dari berbagai penjuru Aceh mereka datang, sehingga dengan karakter yang heterogen berbaur menjadi satu dalam suasana kekeluargaan. Sekolah ini dibangun melalui bantuan internasional. FH Blang bintang disponsori oleh Singapore dan Swiss Charity, Ampeu Awee dari Swiss serta FH Lhoong dari Islamic Development Bank dan Arab Saudi. Sehingga fasilitas dan sarana prasarana sekolah ini sangat baik dan lengkap.

Hari-hari pertama di Aceh ini saya tidak langsung menuju Lhoong  yang merupakan lokasi saya bertugas. Kami sempatkan berkeliling Banda Aceh melihat panorama dan sisa-sisa peninggalan tsunami. Alhamdulillah sebelum sampai di Aceh saya telah mengenal beberapa teman, salah satunya Jufri. Lebaran kemaren beliau bersama akh junaidi ke rumah saya di Payakumbuh, sehingga kami telah akrab sebelumnya. Selain itu ada juga Bang Ramli, merupakan senior saya di PKRI dan kampus perikanan dulu, sekarang sudah bekerja di DKP Aceh.

Bersama Akh Jufri, saya berkeliling melihat kondisi alam dan masyarakat disana. Pagi harinya kami shalat subuh berjamaah di Mesjid Raya Baiturrahman, kemudian dilanjutkan menuju Pantai Ujung Bathe, Blang Padang, Museum Tsunami, Kapal Apung dan Komplek Darussalam. Saya sangat terkesima melihat kultur alam dan masyarakat di sini. Alamnya yang indah dan masyarakatnya yang ramah merupakan ciri khas daerah ini. Ada beberapa hal yang saya sukai dari Nangroe Aceh, yakni :

  • Kebiasaan mengucakan salam, se angker apapun tampangnya jika kita mengangkat tangan dari jauh dan sedikit menggerakkan bibir, dia akan menjawab waalaikumsalam.
  • Seluruh perempuan jika keluar rumah selalu menggunakan jilbab, tak satupun yang tidak memakai pakaian sopan lengkap dengan jilbab kecuali mungkin non muslim.
  • Tidak lebih dari 2 bh tempat ibadah non muslim di Aceh, selebihnya masjid dan meunasah (mushalla) semua.
  • Tidak ada mall dan tempat hiburan modern.
  •  Aceh termasuk daerah yang aman. Hal ini terbukti dengan jarangnya terjadi tindak kriminal seperti pencurian, pembunuhan dan lain sebagainya.  Bahkan di beberapa daerah, sapi-sapi dan ternak dibiarkan saja terlepas oleh sang pemilik, tampa perlu di jaga. Begitu juga jarang ditemui adanya curanmor.

Barangkali kondisi ini tidak lepas dari sangat mayoritasnya jumlah penduduk muslim serta aturan syariat islam yang diterapkan.

Di sisi lain, sering juga saya temui beberapa keunikan pada negeri ini. Terlepas dari kekaguman saya sebelumnya, yakni warung kopi Aceh, jika berkendara sepanjang jalan banda Aceh apalagi sekitar kawasan Ulee kareng, maka akan terlihat deretan warung kopi  sehingga menjadi suatu pemandangan umum. Dimana-mana terdapat warung kopi, dan anehnya lagi semuanya padat oleh pengunjung. Mulai dari kios sederhana sampai pada kelas elit yang dilengkapi oleh wi-fi dan TV Cable,. Begitu setiap harinya penuh disesaki oleh penikmat kopi, mulai dari pagi hingga tengah malam. Sering timbul pertanyaan dihati, lantas apa pekerjaan masyarakat ini kalau sebagian besar waktunya dihabiskan di warung kopi??.. Keunikan ini juga terjadi pada diri saya, dulu awalnya saya tergolong orang yang tidak suka mengopi. Lebih menyenangi teh hangat ketimbang minuman berkafein tersebut. Tapi entah kenapa, semenjak disuguhi kopi Aceh saya mulai tertarik dan menyukai minum kopi. Bisa jadi karena rasa yang khas karena diolah dan diseduh dengan cara yang berbeda.

Setelah puas berkeliling Banda Aceh, tibalah saatnya bagi saya melanjutkan aktivitas di Lhoong. Hari Ahad ditemani Da Id dan beberapa siswa serta rombongan Da Ade Chandra dari Singapore berangkat menuju Lhoong. Kami mengendarai mobil operasional Fajar hidayah. Jaraknya sekitar 50 km dari Banda Aceh. Alangkah indahnya perjalanan kesana, sebab selain jalannya yang bagus juga pemandangan ditepi jalan yang mempesona. Panorama pantai yang masih asri dengan deburan ombak yang indah membuat perjalanan terasa singkat.

Sesampai di FH Lhoong, kami disambut oleh guru-guru dan siswa. Pada malam harinya diadakan performance, semacam pertunjukan yang dilaksanakan oleh siswa jika ada momen-momen tertentu. Para siswa tampil dengan antusias dan penuh semangat. Mereka menampilkan puisi, nasyid, teatrikal, Tari Saman Aceh dan Tari Saman Gayo.  Luar biasa dapat melihat kekompakan dan ketangkasan mereka. Saya menjadi terharu, mengingatkan akan pentingnya menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya.

Tenaga pengajar dan karyawan FH Lhoong umumnya berasal dari Aceh, Sumbar dan Sunda. Dengan karakteristik dan latar belakang yang berbeda,saling bekerjasama dalam mencapai suatu tujuan. Mereka merupakan kumpulan orang-orang baik dengan bakat yang istimewa. Beberapa hari kemudian dilaksanakanlah rapat kerja. Saya diamanahkan sebagai Pembina Family Council, kepala lab IT dan tenaga pengajar beberapa bidang studi tingkat SMP - SMA seperti IPS, Ekonomi, Kimia dan Sejarah Kebudayaan Islam. Itulah kesibukan saya  selama satu semester kedepan, disamping ikut memback-up kegiatan asrama.

Lhoong merupakan salah satu kecamatan yang terletak di Kabupaten Aceh Besar. Daerah tempat didirikannya sekolah ini memiliki suhu yang panas, wajar saja karena di belakan gedung sekolah terhampar Pantai Lhoong yang indah. Lokasinya berbatasan dengan Lamno Kabupaten Aceh jaya, tempat bermukim si mata biru. Menurut sejarah, mereka merupakan keturunan dari portugis atau Spanyol. Sehingga persilangan dengan masyarakat pribumi menghasilkan keturunan Indo dengan rupa yang menawan. Sehingga kalau disebut  kata Lamno tentu afiliasinya ke si mata biru...ckck

Sistem pembelajaran di tempat ini hampir sama dengan di Sekolah Islam lainnya. Dengan menerapkan system full day, kegiatan belajar dimulai jam 07.00 dan berakhir pukul 16.00 WIB. Hanya saja pada malam hari diisi dengan kegiatan ekstrakurikuler berupa pelajaran keislaman, ta’lim, English club, IT club serta latihan performance dan kreatifitas. Program ini dilaksanakan silih berganti setiap malamnya. Sore hari biasanya setiap akhir pekan, kami sempatkan menuju pantai untuk bermain bola. Begitulah setiap harinya kami lalui bersama-sama.

Jika telah sampai hari Senin, maka akan dilaksanakan ikrar, yaitu semacam upacara bendera di sekolah umum. Setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya, maka dilantunkanlah lagu Aceh. Beberapa baitnya  yang masih teringat :

Daerah Aceh Tanoh Lon sayang                                                                          Nibak tuempat nyan lon udep matee                                                                   Tanoh kenuebak indah tumoyang                                                                       Lampoh deungon blang luah beukon le                                                               Keureuja udep na so petimang                                                                           Na so peuseunang keureuja mate                                                                       Hate nyang susah lon rasa seunang                                                                     Aceh lon saya sampeh lon matee

Di Pantai, di atas bukit karang itu seringkali saya habiskan waktu sore. Menikmati indahnya ciptaan Illahi. Lebih sering sendiri tampa ditemani seorangpun, hanya mushaf kecil yang setia.  Dari sudut pantai itulah saya melihat banyak hal. Nelayan yang silih berganti datang menangkap ikan dengan kapalnya. Perkampungan nelayan yang riuh dengan segala kesibukannya. Mereka merupakan kumpulan orang-orang yang tiada menyerah menjalani hari-harinya. Kucoba susuri setiap lekukan pantai sembari mengumpulkan cangkang kerang dengan bentuk yang unik. Pantai dengan komposisi dan pesonanya ini menancapkan pertanyaan dihati, sebenarnya apa yang saya cari dalam hidup ini?? Kalau hanya sekedar hidup, tentu lebih dari cukup bisa didapatkan di sini, tapi rasanya masih ada relung yang kosong..Apalagi yang ingin saya dapatkan?? Itulah gelombang pertanyaan yang seringkali menghiasi hari-hari, seperti halnya gelombang laut yang tak henti beriak ini.

Ketika musim duren telah datang, saya bersama Pak Jufri dan Pak Entis pergi menuju kebun duren di kaki gunung dekat sekolah. Dengan membawa perlengkapan secukupnya kami bersiap menginap di kebun itu. Di tengah hutan belantara, ditengah keheningan suasana pegunungan dan gemuruh deburan ombak menghiasai malam itu. Kami berbincang sambil menikmati duren Lhoong yang sudah terkenal seantero Aceh hingga Medan. Di pagi hari kami ikut membantu mengumpulkan duren yang jatuh dari dahannya. Ada sekitar 70 buah yang dapat kami kumpulkan. Beberapa tentu saja kami makan bersama-sama dan sebagian dibawa ke sekolah. Benar-benar pesta duren, sudah tak terhitung berapa yang habis dimakan..

Suatu kali ada undangan dari TNI AU Lanud SIM untuk mengikuti air modeling dan peringatan kedirgantaraan. Saya ikut menemani beberapa siswa yang terpilih. Kegiatan ini memberi pengalaman baru dengan dunia kedirgantaraan. Selain itu kami juga bertemu langsung dengan Gubernur dan wagub Aceh. Pernah juga ada isu teroris di negeri serambi mekkah ini. Saat dimana media massa dan isu nasional fokus membicarakan hal ini. Ketika itu kami masih disibukkan dengan proses belajar mengajar. Tiba-tiba terdengar kabar ada baku tembak antara polisi dan beberapa orang yang dicap teroris ini. Lokasinya hanya beberapa km dari sekolah kami. Tapi, begitulah penghormatan masyarakat terhadap dayah (pesantren), mereka melindungi segenap person yang ada di dalamnya. Kamipun tidak merasa risau sedikitpun. Hingga suasana kembali tenang, tidak ada perubahan terhadap aktivitas kami.

Beberapa bulan sudah, waktu demi waktu saya lalui di Nangroe Aceh Darussalam. Mie Aceh kepiting dan kopi aceh merupakan kuliner favorit saya di negeri ini. Setelah 6 bulan proses belajar-mengajar, siswapun telah melaksanakan ujian semester. Kini tiba waktunya untuk berlibur  ke kampung halaman dan ada juga diantara siswa dan karyawan memilih melakukan aktivitas lain bersama Fajar Hidayah. Agenda liburan kali ini Fajar Hidayah melaksanakan Summer camp selama 1 bulan  yang diisi dengan 2 macam kegiatan, yaitu Summer camp English dan Summer camp Arabic.  Pada kegiatan ini saya ditunjuk sebagai Pembina program. Kegiatan itu sendiri bertempat di FH Blang bintang. Untuk summer camp English bekerja sama dengan Alkahfi Darussalam yang terletak dekat kampus Unsyiah dan IAIN Ar Raniry. Sedangkan untuk summer camp Arabic ditaja oleh 2 orang tutor lulusan Al Azhar, yaitu Ustd Zulfikar dan Ustd Miftah. Peserta kegiatan ini sebanyak 25 orang, terdiri dari siswa dan siswi Fajar Hidayah. Program ini sangat padat kegiatan. Untuk English gurunya berasal dari Amerika, langsung dilatih oleh bule. Banyak kemajuan pada diri siswa setelah menjalani serangkaian program ini.

Semasa membina summercamp ini, datanglah telepon dari Pekanbaru. Dosen saya yang juga merupakan sekretaris jurusan Agrobisnis Perikanan, Bapak Victor Amrivo memberi kabar bahwa saya di terima di SPs IPB. Akhirnya berita itu datang juga, syukur kepada Sang Rabb, betapa gembiranya hari itu. Sebab, saya akan kembali diberi kesempatan melanjutkan studi. Namun ada kesedihan juga, karena artinya saya akan berpisah dengan keluarga besar Fajar Hidayah di sini.

Beberapa waktu kemudian, kabar ini saya sampaikan kepada pimpinan FH Lhoong. Alhamdulillah beliau mendukung saya. Da Id merupakan sosok pimpinan yang pengertian dan  bijak dalam memutuskan. Selain itu motivasi dan tausyiahnya seringkali menjadi penyejuk dikala gundah. Beberapa guru dan karyawan pun kaget mendengar berita ini, begitu juga dengan siswa. Karena sebelumnya saya tidak pernah memberi gambaran apapun akan hal ini. Tapi alhamdulillah mereka semua bisa memahami.

Menjelang berakhirnya tugas di Aceh, saya turut membantu program MOS siswa baru. Sekitar 250 siswa baru datang ke Lhoong, kebetulan waktu itu guru belum hadir seluruhnya. Akhirnya dengan kekuatan hanya 3 orang guru kami coba tangani kegiatan itu. Setelah selesai MOS, saya berpamitan dengan keluarga besar FH Aceh serta merampungkan amanah dan kewajiban yang masih tertinggal. Walaupun sedih rasanya, tapi inilah kehidupan. Kita tidak pernah tau apa yang terjadi dikemudian hari..

Akhirnya saya bergerak menuju Payakumbuh, tepatnya 3 pekan menjelang Ramadhan 1431 H. Suka dan duka serta berbagai suasana selama ini menghiasi perjalanan pulang. Terpikir betapa mulianya tugas seorang guru, apalagi memiliki kesempatan membina anak-anak yatim. Mendidik dan mengajari dengan sepenuh hati, suatu profesi yang akan menjadi amal jariyah sepanjang masa.. Itulah mereka pahlawan tanpa tanda jasa dan begitu juga dengan saya, akan tetap menjadi diri sendiri, Kini langkah ini bersiap menuju panggilan almamater.. Bismillah Allahuakbar!!

Perhatikan sejarahmu untuk hari esok-mu (TQS. Al Hasyr : 18) 

 

Back to Home

Buitenzorg,strijd en hoop...

 

 Autobiography Part 5 (Masa studi S2 di Institut Pertanian Bogor)                            Posted date : 

Dari sudut-sudut kota hujan kita awali kisah ini.. (bersambung)

Time Like a Sword

Follow me

   
   
    

Upcoming Events

No upcoming events
    Other Links 

Testimonials

  • "Please, give feedback on my site :)"
    Tomi R.
    Site Owner

Space Advertisement