Tomi Ramadona

Autobiografi-ku

 

Nol kilometer merupakan titik dimana biasanya manusia beranggapan dalam kondisi jatuh sedalam-dalamnya, tapi dalam dimensi yang lain nol km merupakan perputaran yang akan senantiasa berfluktuasi dalam setiap waktu dan episode kehidupan. Titik dimana kita terjatuh, tapi juga saat dimana kita mengawali segala sesuatu baik dikala senang ataupun susah, oleh karenanya amatlah benar kata Ibnu Athaillah "Min 'alamatin nujhi fin nihayati ar ruju'u ilallahi fil bidayati", Salah satu tanda sukses di akhir perjalanan adalah kembali pada Allah di awal perjalanan.

Dalam perjalannya, jatuh bangun adalah fitrah kehidupan. Tidak penting seberapa jauh kita terhanyut, seberapa dalam kita terjatuh. Tapi yang paling penting adalah bagaimana kita belajar dari sebab, memahami pesanNya dan melakukan perubahan untuk bangkit dan berlari kembali.

Perhatikan sejarahmu untuk hari esokmu (T QS.59 :18)

Seutas Cerita Tentang Permulaan Hidup Anak Manusia

 

Autobiography Part 1 (Awal kelahiran sampai masa SMA)                                           Posted date : 2 Muharram 1432 H

Bismillah..                                                                                                                             Merupakan suatu kebiasaan bagi saya untuk memulai sesuatu dengan menyebut dan mengagungkan nama sang Khalik Allah Azza Wajalla, yang ditangan-Nya lah hidup dan mati ini berada. Sehingga  dalam tulisan ini-pun saya mengawalinya dengan mengharap barokah dan kemudahan dari-Nya, guna menulis sederetan moment penting sebagai renungan hidup yang telah saya jalani. 

Kisah ini saya awali dari sebuah tempat di bawah lindungan alam, dari hamparan sawah-sawah yang menguning di waktu burung pipit terbang berbondong tatkala asap jerami menjulang ke udara dan awan meliputi puncak Merapi yang indah..

Sahabatku, waktu itu bertepatan di bulan Ramadhan saat kaum Muslimin di seluruh dunia melaksanakan suatu bakti cintanya kepada Rabbul Izzati, tepatnya pada hari Senin 13 Ramadhan 1407 H, pada sebuah desa kecil di Payakumbuh yang bernama Pulutan, di sanalah saya dilahirkan. Ibu dan ayah memberi nama Tomi Ramadona, lebih kurang beliau menafsirkan Tombak Matahari yang lahir di Bulan Ramadhan.

Saya dibesarkan dari keluarga yang religius dan masyarakat yang kental akan nilai-nilai spiritual keislaman, nuansa keagamaan melekat erat dalam kehidupan sehari-hari. Kakek dan nenek adalah warga Muhammadiyah seperti lazimnya masyarakat Sumatera Barat.  Begitu juga dengan sebagian besar lingkup keluarga besar kami.

Dari kecil keluarga menanamkan fondasi keislaman, setiap aktivitas menjunjung tinggi nilai agama. Kakek bernama Alm. Chatib Bareno dan nenek Juniar, mereka merupakan sosok yang berpengaruh dalam kehidupan saya. Lebih dari sebagai seorang guru agama mereka mengajarkan ilmu kepada saya, sebagai guru ngaji, guru keislaman, mengajarkan amal shaleh dan lain sebagainya, hingga  membuatkan berbagai mainan dan mengajak jalan-jalan. Kakek dan nenek begitu sayang kepada saya, hal ini juga disebabkan karena anak-anak beliau dari lima orang bersaudara semuanya perempuan. Barangkali memang tidak ada rezeki memiliki anak laki-laki, hingga lahirlah saya cucu pertama beliau. Bersama kakek dan neneklah saya sampai berusia 10 tahun (kelas 5 SD), baru kemudian saya bersama orang tua. Selain itu kecintaan kakek juga karena saya tidak mendapat kasih sayang seorang ayah, diwaktu usia saya masih sangat kecil ibu berpisah dengan ayah. Tapi Alhamdulillah setelah beberapa tahun, kerinduan akan ayah mulai terobati tatkala Allah mengirimkan seorang makhluknya untuk melengkapi keluarga kami. 

Masa-masa kecil ini begitu membekas dalam memory saya, betapa merdekanya seorang anak, bermain dan berkehendak tanpa dibebani sebuah tanggung jawab. Di sisi lain masa ini juga masa yang berat dalam fase kehidupan saya, dimana dihadapkan dengan tuntutan hidup agar dapat terus bertahan.

Ibunda bernama Eldanetri,S.Pd, beliau adalah perempuan terbaik dalam kehidupan saya, tidak cukup rasanya melalui tulisan ini saya ungkapkan betapa besar kasih sayangnya. Ibunda sehari-hari merupakan guru SLTP sementara ayahanda adalah seorang wiraswastawan. Dalam keluarga kecil inilah saya dibesarkan ditemani seorang adik laki-laki bernama Fikri Hidayat. Bunda merupakan simpatisan PKS dan ayahanda memiliki loyalitas di Muhammadiyah, walau demikian suasana demokratis terasa hangat dalam keluarga kami. Sebuah keluarga sederhana yang membesarkan saya tanpa mengenal akan rasa rokok, minuman keras ataupun narkoba. Saya juga dipersaudarakan dengan Taufik Ismail dan Fadli Zon, mereka adalah bako saya yakni suami dari kakak ayah. Dibeberapa kesempatan di Jakarta saya sempat kerumahnya.

Pada masa kecil ini ada sebuah kenangan kecil yang membekas, kala itu saya bersama ibunda pergi ke Bank Nagari sebuah BPD pertama di Payakumbuh, suasana di dalam bank yang nyaman dan pegawainya yang ramah serta rapi (red, lengkap dengan dasi) membuat saya bertanya kepada bunda 'apakah nanti saya bisa seperti bapak itu! (sembari menunjuk salah seorang pegawai bank)', bunda dengan senyum terkembang diwajahnya menjawab ringkas 'bisa nak'...maka sejak saat itu saya mulai rapi dalam berpakaian, lebih suka memakai celana dari bahan dasar dan baju (khususnya kemeja) dimasukkan kedalam..hmm begitulah.

Awal pendidikan saya dimulai dari sebuah TK yang bernama TK Bayangkari, di tempat itulah saya bermain dan belajar dengan teman-teman yang rata-rata merupakan keluarga bayangkara. Ada kerinduan rasanya bisa bersua kembali dengan teman-teman kecil dulu, masih terngiang di kepala bagaimana bentuk wajah canda mereka.

Pertengahan tahun 1993 saya melanjutkan ke sekolah dasar di SD Negeri 20 Tanjung Pati. Lokasi sekolah ini berdekatan dengan sekolah dimana Ibunda mengajar. Setiap hari sehabis pulang sekolah saya selalu ke sekolah bunda, setia menunggu hingga selesai tugasnya mengajar, baru kemudian bersama-sama pulang dengan sepeda motor kesayangan bunda menuju rumah nenek. Sambil menunggu bunda biasanya saya duduk –duduk di kantor majelis guru sambil menonton televisi atau iseng-iseng mengetik dengan mesin tik yang ada di kantor itu, sebuah kenangan masa lalu yang cukup mengasyikan. Sesampai di rumah biasanya kalau tidak ada pekerjaan yang bisa saya bantu, saya langsung bermain bersama teman-teman, ada banyak permainan tradisional waktu itu sebut saja ‘tokok lele, main gambar, kelereng, bola kasti, main benteng dan lain-lain, namun adakalanya juga saya bersama dua orang sahabat kecil saya syukri dan dores kami pergi ke tengah sawah, disana ada dua batang pohon seri tempat kami menghabiskan waktu menjelang sore, sambil menikmati buahnya kami bercerita panjang tentang cita-cita masa depan. Namun ,ketika musim panen buah tiba, kami rombongan pasukan kecil berangkat menuju kaki gunung bungsu untuk mencari ‘cubadak hutan’/nangka hutan, durian, rambutan dan berbagai nikmat Allah yang hadir pada saat itu. Dalam perburuan ke hutan itu kami memiliki teman seorang petunjuk jalan, kebetulan ia memiliki gubuk di atas bukit, sepulang dari perburuan kami membawa beberapa karung hasil panen, kelelahan yang tidak sia-sia. 

Di tahun 2004 saya bersama nenek dan beberapa sanak saudara lain mendapat kesempatan bersilaturrahim ketempat kerabat di Jakarta. Saat itu bertepatan  masa liburan sekolah, yakni libur panjang kenaikan kelas 2 SD. Dalam perjalanan ke Jakarta kami tempuh melalui jalur darat, menaiki salah satu bus lintas sumatera. Sebenarnya mode transportasi ini sangat tidak saya sukai, terbukti diperjalanan entah berapa kali saya mabok. Bukan hanya saat itu saja, hingga sekarang pun saya masih trauma dengan yang namanya bus, barangkali karena bau keringatnya (solar..he). Tapi untungnya saya tidak bermasalah dengan jenis transportasi lain semacam Kapal, KRL, pesawat dll dan biarlah ini akan menjadi rahasia saya saja..he. Ketika melewati Selat Sunda dari Pelabuhan Bakahuni menuju Tj. Priok perjalanan dilanjutkan menaiki sebuah kapal veri. Saya amat senang ketika bersua lagi dengan suasana laut, tapi kakek sangat khawatir dan tidak membiarkan saya berlama-lama di geladak kapal, takut masuk angin katanya. Sesampai di Jakarta, kami dijemput di terminal Rambutan oleh sanak saudara. Hampir satu bulan lamanya kami menghabiskan waktu di kota ini, dengan menginap di Cawang dan Bekasi. Berbagai tempat kami kunjungi di pusat Kota negara ini, mulai dari tempat rekreasi, pusat perbelanjaan, kuliner dan lain sebagainya. Perjalanan pun dilanjutkan ke Tegal (Jawa Tengah) menghadiri kondangan salah seorang saudara saya. Setelah berbagai agenda dan liburan dipenuhi, kami pun kembali ke Payakumbuh..

Di waktu saya duduk di kelas IV SD, alhamdulillah kehidupan ekonomi sudah mulai membaik. Orang tua membeli rumah di Sarilamak, rumah yang sampai saat ini kami tempati. Lokasinya tidak jauh dari Lembah Harau, sebuah aset wisata yang sudah terkenal di nusantara. Panorama ini memilki ratusan air terjun. Biasanya setiap minggu pagi, saya bersama teman-teman pergi maraton dan mandi di Harau. Selain lembah Harau, daerah ini juga kaya akan objek wisata. Seperti goa Ngalau indah, Sarasah bunta, panorama Taram, Menhir di Mahat dan lainnya. Benar-benar sebuah daerah sejuta pesona. Akhirnya untuk memudahkan perjalanan ke sekolah, saya yang pada saat itu naik kelas enam pindah sekolah ke SD 06 Sarilamak, letaknya tidak jauh dari rumah kami.

Setelah menamatkan sekolah dasar saya melanjutkan pendidikan ke SLTP N 1 Harau, termasuk sekolah berstandar nasional di daerah itu. Alhamdulillah kelas 1 dan kelas 3 saya mendapat rengking I di sekolah ini. Diwaktu kelas 2 prestasi sekolah menurun, bisa jadi tahun ini merupakan karir terburuk saya dalam dunia pendidikan. Saat itu sedang maraknya Plays Station, sayapun menjadi pecandu berat game konsol tersebut. Akibatnya, pelajaran di sekolah menjadi ketinggalan. Pada tahun ini saya juga mengikuti kursus Bahasa Inggris di Universal Payakumbuh selama 1 tahun, Mr Zainal sangat memotivasi saya dalam meningkatkan kemampuan bahasa. Semasa kursus ini saya memiliki banyak teman di luar sekolah, bahkan ada juga mahasiswa, saya bisa share bagaimana pengalaman mereka dalam menuntut ilmu, hingga membuat saya termotivasi untuk terus berupaya meningkatkan pengetahuan. Di penghujung kursus, kami praktek lapangan ke Bukittinggi, mencoba berkomunikasi dan aplikasi ilmu dengan touris atau orang asing yang ada disana. Pada praktek ini sambil refreshing kami menemui beberapa orang turis, senang rasanya bisa berbicara dengan mereka walau penguasaan bahasa masih terbatas.

Pada masa ini juga saya memiliki hobi bermain sepak bola, sampai-sampai kelas 3 saya sudah tergabung dengan klub senior di daerah saya dan diamanahkan sebagai capten untuk tim yunior. Salah satu momen yang special terjadi ketika pertandingan antara klub daerah saya bertanding melawan klub daerah nenek saya, posisi saya membela tim daerah saya, pada menit 60an saya masuk menggantikan pemain lain, tidak sampai 1 menit saya berhasil mencetak gol sehingga skor berubah menjadi 3-1 untuk kemenangan tim kami dan bertahan hingga bubar. Ada perasaan tidak enak hati sebenarnya, tetapi dalam sepak bola harus professional. Pada tahun tahun 2002 saya lulus dari sekolah ini untuk melanjutkan studi ke sekolah menengah atas.

SMA 1 Harau merupakan pelabuhan terakhir wajib belajar  yang saya lalui. Sekolah yang meninggalkan banyak kenangan dalam hidup saya. Sekolah ini letaknya tidak jauh dari SLTP saya sebelumnya, sehingga teman-teman pun tidak jauh berbeda. Dari sekolah inilah saya mulai tertarik belajar computer, karena pada masa itu computer merupakan suatu barang baru. Aktivitas lain yang saya ikuti adalah pramuka yang merupakan salah satu kegiatan ekstrakurikuler di sekolah ini, suka dan duka kegiatan ini pernah saya rasakan melalui outbound, camping dan lintas alam. Di waktu kelas 2 saya dan beberapa orang teman-teman mengikuti pesantren kilat di sekolah. Kegiatan ini bekerjasama dengan Sekolah Islam Ibnu Khaldun yang berlangsung selama 1 minggu. Ustad dan Ustadzah yang mentaja kegiatan ini memberikan banyak siraman rohani dan motivasi spiritual kepada kami, sehingga tidak sedikit dari kami yang menangis terharu akibat kelalaian yang selama ini dilakukan. Pada kelas 2 ini juga saya memiliki pengalaman dengan teman sekelas, dimana waktu itu diadakan lomba lari marathon beregu sekabupaten. Kegiatan ini diadakan oleh Pemda 50 Kota. Peserta kegiatan ini terdiri dari berbagai instansi mulai dari sekolah perguruan tinggi, lembaga pemerintah, ormas dan umum, dimana 1 regu terdiri dari 5 orang peserta. Saya dan 4 orang teman kelas II.3 ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Jarak yang ditempuh dalam lomba marathon ini mencapai 25 km melalui 2 gunung. Tim kami mengalami start yang buruk dimana kami membuat kesalahan dalam menjawab soal pra strating sehingga ketinggalan jauh dari tim yang lain. Sedikit demi sedikit kami coba kejar dengan menjaga konsistensi kecepatan dan kekompakan. Alhamdulillah ternyata kami finish diurutan pertama dan berhak mendapat trophy dan tabungan, masing-masing kami mendapat 700rb rupiah lumayan untuk tahun 2003, merupakan sebuah pengalaman yang tak terlupakan. 

Selama SLTP dan SMA saya tergolong siswa yang kurang aktif dalam aktivitas organisasi, ada banyak faktor yang melatar-belakanginya. Sampai selesai SMA bisa dikatakan  hanya Forum Ar Rijaal yang saya ikuti, lembaga ini merupakan organisasi Rohis di SMA. Selama sekolah, hampir tidak pernah saya terlibat dalam kasus, seperti berkelahi, tawuran, bolos dan lain lain, mungkin karena memang asalnya cinta damai...he, begitu juga dengan pacaran, sejak dari SD sampai SMA saya belum pernah terlalu dekat dengan perempuan. Seiring berjalannya waktu saya mulai menyadari akan Firman Allah “La Takrabuzzina”, sehingga perempuan itu saya ibaratkan seperti property di toko dalam sebuah bingkai kaca yang sangat ingin dimiliki, hanya bisa dilihat tidak boleh disentuh, tapi tentu saja kita akan benar-benar mencintai sesuatu ketika kita telah memilikinya, sehingga barulah setelah memiliki kita bisa menjaga dan merasa properti itu bagian dari diri kita yang patut mendapat kasih sayang dan perhatian. Wallahualam..

Semenjak kecil hingga masa remaja, saya dibesarkan dalam budaya kesederhanaan dan kemandirian. Masa ini merupakan rentang waktu yang cukup sulit. Di masa ini hampir setiap pekerjaan pernah saya lakukan, mulai dari kegiatan pertanian karena kami memiliki beberapa sawah dan ladang. seperti menanam padi, merawat, menyiangi sampai memanen kembali, saya juga pernah mencari kayu bakar ke hutan, berkebun mangga, tomat,kayu manis, mencari siput dan belut di sawah untuk bahan lauk, hingga ikut berdagang ke Bukittinggi. Namun Alhamdulillah dengan berbagai tempaan hidup ini menjadikan saya merasakan hikmah yang luar biasa serta memberi manfaat pada episode kehidupan saya selanjutnya.

.................... 

Note: Untuk Keutamaan Hari Ke 13 Ramadhan Rasulullah saw bersabda "Allah Azza wa Jalla mencatat bagi kalian pahala seperti pahala ibadah penduduk Mekkah dan Madinah, dan Allah memberi kalian syafaat sejumlah bebatuan dan bongkahan tanah liat yang ada di antara Mekkah dan Madinah". (Fadhail Al-Asyhur Ats-Tsalatsah: 81-86) .

 

Jejak kenangan yang tersisa :

 Disaat usiaku 1 tahun

 

 

more ...

 

Untuk Keutamaan Hari Ke 13 Ramadhan Rasulullah saw bersabda:
Allah Azza wa Jalla mencatat bagi kalian pahala seperti pahala ibadah penduduk Mekkah dan Madinah, 
Untuk Keutamaan Hari Ke 13 Ramadhan Rasulullah saw bersabda:

Menggapai Asa di Bumi Lancang Kuning

 

Autobiography Part 2 (Masa studi S1 di Universitas Riau)                                           Posted date : 16 Muharram 1432 H

Masa-masa kecil dulu telah diwarnai oleh banyak hal, begitulah masa-masa permulaan dalam hidup saya. ke depan ingin rasanya langkah ini berpijak pada arah yang tepat, dengan harapan dapat melakukan sebuah transformasi menuju kehidupan yang lebih baik. Perubahan dalam pola pikir dan sikap yang masih kekanakan akan dimulai sejalan dengan pelayaran menuju samudera perantauan.

Pada episode kali ini perjalanan saya menuju Bumi Lancang Kuning, Alhamdulillah setelah lulus SMA saya diterima di Universitas Riau melalui jalur PBUD. Saya sangat bersyukur dapat melanjutkan studi pada institusi ini. Terasa sekali banyak hikmah dan perubahan dalam diri saya. Barangkali jika sekiranya tidak kuliah di tempat ini, entah seperti apa saya sekarang. Syukur pada Rabbul Izzati yang telah memilihkan jalan terbaik dalam hidup saya, walaupun pada awalnya hal ini sama sekali tidak pernah terbayangkan.

Ada beberapa alasan saya memilih jurusan SEP atau agrobisnis perikanan. Diantaranya, saya sangat senang dengan laut, berikut aktivitas didalamnya. Ketika ada kesempatan mengunjungi daerah yang memiliki pantai, maka tidak akan saya siakan menikmati keindahannya. Kemudian,darah kelautan barangkali ada dalam jiwa saya yang diturunkan oleh ayahanda. Ketiga, mungkin karena nenek moyang ku orang pelaut..he

Di Pekanbaru, saya memiliki beberapa sanak saudara, Pada awal kedatangan saya ke Kota Bertuah ini saya menginap di rumah Uni Wit dan Da Si. Mereka sudah seperti keluarga sendiri. Uni Wit dan Da Si merupakan Guru/PNS di Pekanbaru. Selama satu bulan pertama saya menginap di rumahnya. Keluarga yang sangat harmonis, rumahnya terletak di Perum Delima Puri Tampan. Bulan berikutnya saya sudah dapat tempat kos yang letaknya dekat dengan kampus, namanya pondokan Andeska. Di sana saya tinggal bersama Bang Altoyo yang merupakan senior saya semenjak sekolah dulu dan Da Gedri satu kampung halaman dengan saya. Di Tempat kos itu pulalah saya menghabiskan waktu 2 tahun pertama perkuliahan.

Awal perkuliahan, seperti halnya ketentuan dari kampus menginstruksikan mahasiswa PBUD melaksanakan matrikulasi selama 2 bulan. Momentum ini saya manfaatkan sebagai langkah awal untuk beradaptasi dan mengenal lebih jauh tentang dunia kampus. Selama matrikulasi saya mendapat teman-teman baru dari berbagai fakultas, teman yang satu kelas dengan saya berasal dari FKIP dan FMIPA, ternyata teman-teman ini juga-lah yang nantinya banyak berinteraksi dengan saya selama perkuliahan S1. Pada waktu matrikulasi ini saya dikenalkan oleh Bang Altoyo dan Bang Fikri (Bdp) dengan LDK Fakultas namanya UKM Pusat Kegiatan Rohani Islam (UKM PKRI). Ada banyak program juga yang dilaksanakan LDK ini untuk mahasiswa yang mengikuti matrikulasi. LDK ini pulalah yang pada akhirnya memberi peran penting dalam perjalanan hidup saya.

Semester 1 Alhamdulillah saya lalui dengan hasil yang memuaskan. IP 3,55 berhasil didapatkan dalam 20 sks bidang studi perkuliahan. Belum ada aktivitas ekstra yang cukup berarti pada masa ini, hanya kegiatan jurusan KBM dan Kilas 1.9 oleh PKRI yang saya ikuti. Kegiatan KBM atau kemah Bakti Mahasiswa ini diadakan di Desa Sallo Kampar, ada aktivitas perploncoan juga didalamnya, tapi mungkin karena saya sudah lebih dahulu kenal dengan senior akhirnya saya tidak mendapat perlakuan berlebihan. Sementara itu, Kilas 1.9 yang saya ikuti di awal semester banyak memberikan kegiatan-kegiatan seru, seperti materi keislaman, game, motivasi dan berbagai muatan lainnya, acara ini dilaksanakan selama 2 hari indoor dan outdoor. Setelah pelaksanaan Kilas, diadakanlah follow-up untuk alumninya berupa kegiatan mentoring, disinilah saya merasakan ukhuwah yang terjalin tentang bagaimana hak dan kewajiban seorang muslim dengan muslim lainnya. Alhamdulillah follow-up ini terus berlanjut hingga saya menyelesaikan studi di Universitas Riau.

Di akhir pekan awal tahun 2006, kami beberapa orang mahasiswa perikanan mengadakan mukhayyam (camping) di Danau Buatan. Terlaksananya kegiatan ini melalui inisiatif kami sendiri. kebetulan ada senior dari PKRI yang ikut menemani. Saya bersama Junaidi, Robby, Sonny, Munarief, Dedi, Bang Budi dan Bang Merio Satria berpetualang pada objek wisata Pekanbaru itu. Kami berangkat Sabtu sore dengan membawa berbagai perlengkapan lapangan. Sesampai disana langsung kami dirikan tenda dan menyiapkan hidangan malam setelah sebelumnya Shalat berjamaah. Di tengah hutan belantara itu, kami sibukkan diri dengan kegiatan tazkiyatun nafs. Pagi hari ketika sang surya telah menampakkan wujudnya, kami mulai ekspedisi menyusuri pinggiran danau buatan. Sekilas lokasi yang ingin kami telusuri kelihatan singkat, ternyata menjelang sore baru mencapai pertengahan. Sempat kami dilanda kebingungan, sebab tanpa perlengkapan dan makanan kami berada di pertengahan danau. Di ujung sana terlihat pemukiaman dan keramaian orang, tapi apa daya mereka tidak melihat kami. Tanpa ada kontak yang bisa dihubungi, terus kami berfikir. Akhirnya di dalam kebingungan itu kami melihat ada rumah yang sudah tidak dihuni. Ada satu perahu disana dan dengan itulah saya bersama bang Merio melintasi danau untuk meminta bantuan dengan menyewa boat menjemput teman-teman yang masih ditengah hutan sana. Begitulah hari yang cukup menegangkan itu kami lalui, rasa syukur kepada Sang Khalik terus kami lantunkan pada perjalanan pulang.

Memasuki semester 2 saya mengikuti Dauroh Marhallah 1 KAMMI At-Thursina, dimana kegiatan ini merupakan kegiatan pelatihan sekaligus pengkaderan dari organisasi eksternal kampus yang bernama Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia. Saya mendapat tambahan ilmu, pengalaman dan teman-teman baru selama mengikuti kegiatan ini. Banyak teman-teman antar fakultas yang saya dapatkan, senang rasanya bisa berbagi dengan mereka., Saya juga dikenalkan pada berbagai kegiatan aktivis kampus lainnya. Pada masa-masa inilah saya  semakin merasakan manuver diri, suatu perubahan akan pemahaman yang lebih baik, kampus tidak hanya sebagai ladang ilmu melainkan juga sebagai ladang amal yang harus senantiasa dipupuk dan dipelihara untuk perbaikan diri dan lingkungan. Alhamdulillah titik cerah kehidupan mulai bersinar di hati saya.

Tidak terasa semester 2 berlalu dengan cepat, memasuki semester 3 optimisme dan ghiroh kian memuncak di dalam diri, ingin rasanya membuat suatu ekspetasi yang besar dalam hidup ini. Amanah kampus pun menghampiri. Pada semester ini saya diberi amanah sebagai Sekretaris Umum PKRI dan Staf ahli Latbang HMJ SEP. Sungguh semester yang cukup berat, karena disamping aktivitas organisasi saya juga disibukkan dengan aktivitas perkuliahan yang padat. Ichthyologi, avertebrata air, statistika dan beberapa praktikum lainnya yang menyita waktu harus saya menej secara bersamaan. Pagi-pagi biasanya sebelum praktikum Ichtyio saya dan teman-teman harus hunting mencari ikan di pasar-pasar, mulai dari pasar panam, arengka, dupa dan kota sampai ke hypermart saya jelajahi. Banyak juga pengalaman yang terlahir disini, seperti dikerjain pedagang dan pernah juga tidak boleh mengikuti praktikum (baca: tidur siang) karena ikan di lab hilang. Tapi saya termasuk cukup beruntung, karena banyak dari teman-teman di PKRI yang menjadi asisten lab, sehingga ada berbagai kemudahan yang diberikan, salam hormat dan terima kasih untuk para asisten. Dari segi amanah kampus saya merasakan berbagai tantangan yang dialami, karena ini merupakan pengalaman pertama saya di organisasi kemahasiswaan. UKM PKRI memberikan job desc pada bagian administrasi dan kesekretariatan walaupun secara umum berfungsi memback-up ketum. Saya sebenarnya tidak punya pengalaman dan keahlian di bidang ini, tapi dakwah mengajarkan bahwa sebagai kader dakwah kitak tidak boleh berambisi dan meminta suatu amanah, tapi tugas kita adalah selalu mempersiapkan diri untuk siap diamanahkan dimana saja.

Dua tahun di pondokan Andeska memberi banyak cerita pada permulaan perantauan ini. Di tempat itu kami sering masak bersama, bergantian sebagai koki, karena berasal dari Sumbar tentu menu padang yang menjadi andalan. Ada keinginan rasanya untuk mencari suasana baru, puncaknya terjadi di semester 5, saya bersama teman-teman PKRI berhasil menyewa 1 rumah sehingga kami membuat pondokan ikhwan, namanya Pondokan Mekiwa, agak sedikit asing tapi justru itu yang membuat namanya popular dikalangan aktivis kampus. Yang tinggal di pondokan itu ada Bang Altoyo, Bang Dimas PM, Bang Tata Jaelani, saya dan akh Junaidi, kemudian kami mencari teman-teman PKRi lain yang mau ikut bergabung dengan kami. Saya mengajak akh.Seprianto (IK) untuk pindah kos ke Mekiwa, setelah melalui pertimbangan akhirnya beliau jadi tinggal disana dan semenjak itulah ia menjadi kader utama di kampus. Begitu juga dengan adik-adik yang datang selanjutnya, ada Akh Yulan dan Akh Ikhwan Sirait.

Pada semester 5 ini saya mendapat amanah baru setelah menyelesaikan amanah sebelumnya. 2 hari menjelang penyampaian LPJ saya sebagai Sekum pada Musbar PKRI diadakanlah musyawarah anggota HMJ SEP. Hari itu membuat suasana batin saya tidak menentu, sebab teman-teman HMJ menaruh harapan besar agar saya menjadi ketua HMJ SEP berikutnya. Pada sore harinya saya berkonsultasi dengan Kakak-kakak di LDK, Mereka menyarankan saya untuk mencari kader lain sebagai ketua HMJ dan saya bersiap-siap untuk diamanahkan di PKRI. Ada perasaan tidak enak sama teman-teman HMJ, sebab beberapa hari itu mereka selalu intens terhadap saya, dilain sisi saya juga harus sami’na wa atho’na. akhirnya saya cari cara paling halus untuk menolak amanah di HMJ dan meminta akh Putra Hadi sebagai bupati. Alhamdulillah beliau menerima dengan catatan saya harus membantunya sepanjang kepengurusan. Musbar PKRI menetapkan saya sebagai Ketua Umum PKRI berikutnya, sebuah amanah yang berat apalagi ada percepatan disana, karena seharusnya amanah tersebut untuk angkatan di atas saya. Tapi saya coba kuatkan hati dan berupaya ikhlas semoga diberi hikmah yang lebih baik. Sepanjang perjalanan amanah saya di kampus tak sekalipun saya diberi kesempatan untuk istikhorah., termasuk amanah kali ini. Tahun yang melelahkan, menguras tenaga dan fikiran. Suka dan duka melebur menjadi suatu momen yang indah lagi berat.

Pada libur semester ganjil, saya sempatkan Praktek Umum di Payakumbuh Utara Sumbar. Praktek Umum ini di bawah bimbingan Bpk. Darwis,M.Si yang juga merupakan penasehat akademis sekaligus orang tua saya di kampus. Seminar hasil PU ini saya laksanakan di semester 7 bertepatan dengan bulan Ramadhan. Alhamdulillah saya mendapat nilai A. Teori perkuliahan telah saya selesaikan di semester 6, sehingga memasuki semester 7 kewajiban studi tinggal pelaksanaan seminar PU, Kukerta dan tugas akhir.

Setelah berakhirnya semester genap (6) ini, terasa beban sedikit berkurang mulai ada kelonggaran. Libur semester selama 2 bulan saya dan teman-teman 2005 umumnya melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (Kukerta). Saya ditempatkan di Rengat Inhu tepatnya di Desa Pasir Kemilu. Kelompok kami terdiri atas 10 orang, Akh Handoko ditunjuk sebagai ketua dan selebihnya anggota, yaitu saya, Rafik, Dedi, Awang, Said, Annisa, Dewi. Dwi dan Nola. Kami berasal dari berbagai fakultas, posko kami terletak di Kantor Kepala Desa Pasir Kemilu. Lingkungan yang ramah membuat kami nyaman tinggal disana. Kami tidak mengalami kendala dengan komunikasi dan transportasi yang umumnya dirasakan mahasiswa Kukerta, karena jarak posko kami dengan pusat Kota Rengat hanya 2 km. Selama Kukerta ada banyak program yang kami laksanakan, mulai dari pendidikan, keagamaan, olahraga, karang taruna dan lain sebagainya. Alhamdulillah selama Kukerta ini tidak ada permasalahan berarti yang kami temukan, akhirnya kami semua mendapat nilai A dari LPM Univeritas Riau.

Sehabis pelaksanaan Kukerta, tepatnya semester 7 saya sudah menyelesaikan teori dan tidak satupun mata kuliah yang saya ambil, karena kebetulan tidak ada mata kuliah yang diulang. Semester ini saya fokuskan untuk research dan aktivitas organisasi. Pada semester ini pula saya diamanahkan sebagai Menteri Sekretaris Kabinet BEM Unri. Pada masa ini saya juga mengisi kegiatan dengan mengikuti mukhoyam, rihlah serta membantu dosen di LPM universitas. Di LPM saya membantu Prof. Zulkarnaini dalam tugasnya. Karena ada banyak program yang tidak bisa ditangani sepenuhnya oleh karyawan LPM. BEM Unri juga melaksanakan banyak kegiatan, sehingga waktu saya juga banyak habis pada kegiatan ini. Alhamdulillah pada semester 7 saya mendapatkan Grand Research dari Lembaga Penelitian (Lemlit) Universitas Riau, sehingga seluruh biaya penelitian saya ditanggung sepenuhnya oleh Lemlit. Selain itu saya juga masih menerima beasiswa PPA yang saya peroleh semenjak duduk di semester 3 perkuliahan.

Amanah terakhir di organisasi kampus ini merupakan puncak dari seluruh aktivitas saya selama perkuliahan, sebab banyak hal yang saya temui dan rasakan. Tekanan dari pihak internal dan eksternal seakan menjadi bumbu dalam mengarungi amanah ini. Banyak problematika dalam diri ini tatkala tugas mensolidkan pengurus dihadapkan pada batasan tarbawi, sehingga tak jarang pada masa-masa akhir ini saya mendapat beberapa kritikan terutama dari kader fakultas. Saya sadar bahwa ini merupakan konsekuensi dari suatu amanah, saya tidak boleh naïf dan harus mengevaluasi diri. Mei 2009 BEM Unri menyelesaikan tugasnya dan mempertanggung-jawabkan dalam bentuk LPJ dihadapan Kongres Mahasiswa. Alhamdulillah seluruh kelembagaan mahasiswa se Universitas Riau menerima LPJ ini. Bertepatan dengan hari dilaksanakannya kongres mahasiswa ini saya mendapat ujian dari Allah. Kondisi fisik saya sangat menurun, sehingga terpaksa saya harus dirawat di rumah sakit selama 4 hari. Saya terkena penyakit tipus dan hampir memasuki stadium hepatitis, tapi Alhamdulillah Allah kembali memberi nikmat sehat kepada saya dan tidak ada lagi saya rasakan gejala seperti itu hingga sekarang.

Keluar dari masa-masa sulit itu, beban sudah sedikit berkurang, amanah formal kampuspun sedang kosong, saya langsung tancap gas memfokuskan diri pada tugas akhir. Alhamdulillah dalam pengerjaan TA ini, proposal riset yang saya ajukan lulus Program Kreativitas Mahasiswa yang diseleksi oleh Lembaga Penelitian Unri. Akhirnya dana penelitian sepenuhnya ditanggung oleh PKM-GT Dikti. Selama 2 bulan dalam rentang Mei-Juni 2009 dengan kemudahan dan izin-Nya, saya berhasil melaksanakan seminar proposal, hasil dan kompre (sidang) dibawah bimbingan Pak Ramli dan pak Hendrik. Seminar-seminar itu semuanya dilaksanakan pada hari terakhir batas waktu yang ditentukan Fakultas, tapi Alhamdulillah Allah berkenan memberi izin saya untuk wisuda di bulan Juli. Sehingga dengannya saya mampu memenuhi janji yang dulu pernah tersampaikan kepada Ibunda untuk selambat-lambatnya 4 tahun diperkuliahan. Proses penyelesaian tugas akhir yang singkat ini bertambah istimewa dengan perolehan nilai sangat memuaskan. Alhamdulillah wasyukurillah ya Rabb..

Dengan demikian berakhir pula amanah kampus yang selama ini saya sandang, tapi saya sangat optimis dan yakin perputaran amanah ini akan melahirkan generasi yang lebih baik. seperti yang dikisahkan dalam fatwa fujangga :

Tuah sakti hamba negeri                                                                                    Esa hilang dua terbilang                                                                                     Patah tumbuh hilang berganti

Di penghujung Juli 2009, alhamdulillah saya bisa mengikuti Prosesi Wisuda Sarjana Universitas Riau, sekaligus tercatat sebagai pemuncak jurusan. Perjuangan melelahkan ini akhirnya terbayar sudah, setelah melalui 3 tahun 10 bulan di Bumi Lancang Kuning. Ini merupakan anugerah dan nikmat dari Allah SWT yang begitu besar, serta merupakan kepuasan tersendiri yang saya rasakan setelah melalui berbagai ujian dan kerja keras selama ini. Rasanya sejauh ini begitu banyak ujian dan rintangan yang saya temui, namun pada episode kehidupan selanjutnya saya yakin akan ada berbagai petualangan dan perjuangan yang lebih seru akan saya hadapi..Wallahualam.

Duhai Tuhanku, banyak nian rahmatMu
syukurku pada Mu untuk semua untaian cinta kasih Mu
terimakasih ku buat ibunda,ayahanda,serta adik tersayang
yang selalu berdoa dan berkorban untukku,
kepada sanak saudara, handai taulan, teman-teman serta insan-insan tercinta
serta ku persembahkan buat mu almamaterku..

Perhatikan sejarahmu untuk hari esok-mu (TQS. Al Hasyr : 18) 

Go to Page 2

Back to Home

Time Like a Sword

Follow me

   
   
    

Upcoming Events

No upcoming events
    Other Links 

Testimonials

  • "Please, give feedback on my site :)"
    Tomi R.
    Site Owner

Space Advertisement