Tomi Ramadona

Publikasi Ilmiah

 

1. Karya Ilmiah (Skripsi S1)

     Sponsor : Didanai sepenuhnya oleh PKM-P 2009 (Dikti)                                                                                                        Format   : Tata Penulisan Skripsi Untuk Koleksi Pribadi (pdf)                                                              ......................................................................................................

  

       ANALISIS EKONOMI BASIS SEKTOR PERIKANAN DI  KABUPATEN  LIMA  PULUH  KOTA PROPINSI SUMATERA BARAT 

Oleh : Tomi Ramadona*)


Penelitian  ini  dilaksanakan  di  Kabupaten  Lima  Puluh  Kota  Propinsi  Sumatera  Barat  pada  tanggal  3  April  sampai  25  Mei  2009.  Penentuan  lokasi  penelitian dilakukan  sengaja  (purposive), dengan pertimbangan Kabupaten Lima  Puluh Kota memiliki potensi perikanan yang cukup besar untuk dikembangkan.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan  menganalisa data sekunder. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data rangkai  waktu  (time  series  data) mulai  tahun  2003  sampai  dengan  2007,  yang diperoleh  dari  Badan  Pusat  Statistik  (BPS)  Kabupaten  Lima  Puluh  Kota  dan Propinsi  Sumatera  Barat,  Dinas  Perikanan  Kabupaten  Lima  Puluh  Kota  dan Propinsi  Sumatera  Barat,  Badan  Perencanaan  Pembangunan  Daerah  Kabupaten Lima Puluh Kota  (BAPPEDA). Sedangkan  analisis  data  yang  digunakan  adalah analisis Shift Share, Location Quetient (LQ) dan analisis Multiplier Effect.

Kontribusi sektor perikanan Kabupaten Lima Puluh Kota pada tahun 2003 sampai  2007  terhadap  PDRB  mengalami  penurunan  dengan  nilai  kontribusi berkisar  pada  2,84%  sampai  2,51%.  Sedangkan  kontribusi  sektor  perikanan Kabupaten Lima Puluh Kota terhadap tenaga kerja tahun 2004 dan 2006 naik dari tahun sebelumnya dengan nilai sebesar 22,75% dan 21,79%  sedang ditahun 2005 dan 2007 mengalami penurunan dengan nilai kontribusi 19,64% dan 19,46%.

Selama  periode  tahun  2003  sampai  2004,  sektor  perikanan  merupakan sektor  basis  dalam  perekonomian wilayah Kabupaten  Lima  Puluh Kota  dengan  nilai  Location  Quotient  (LQ)  berkisar  antara  1,03-1,01.  Sedangkan  pada  tahun 2005  sampai  2007  tergolong  sektor  non  basis  dengan  LQ  berkisar  0,99-0,93. Berdasarkan  indikator  tenaga  kerja,  sektor  perikanan  pada  tahun  2003  sampai 2007 merupakan sektor basis dengan LQ berkisar antara 1,95–4,18.

Pada  tahun  2003  sampai  2007  sektor  perikanan  memberikan  efek pengganda  yang  cukup  berarti  bagi  pertumbuhan  ekonomi  wilayah  Kabupaten Lima Puluh Kota, dengan nilai multiplier effect antara 14,27–76,49 pada indikator PDRB,  sedangkan pada  indikator  tenaga  kerja  nilai  efek  penggandanya  berkisar antara -62,37 sampai 73,06.

Untuk  meningkatkan  produktivitas  dan  kontribusi  sektor  perikanan Kabupaten  Lima  Puluh  Kota  kedepan,  maka  perlu  adanya  tambahan  tenaga penyuluh perikanan, mengingat keterbatasan SDM  selama ini yang menyebabkan kurang  optimalnya  penyampaian  informasi  dan  solusi  menjangkau  seluruh kecamatan.  Selain  itu,  Perlu  dikembangkan  usaha  pembenihan  dengan memperbaiki jalur distribusi berupa keterlibatan pemerintah dalam mencari pasar potensial  untuk  mengurangi  marketing  margin,  serta  adanya  penetapan  harga dasar (floor price) sehingga bisa meransang petani pembenih untuk meningkatkan produksinya.

Pemerintah  Daerah  melalui  dinas  terkait  perlu  melakukan  penataan kegiatan-kegiatan  basis  ekonomi  di  Kabupaten  Lima  Puluh  Kota  melalui pembentukan  sentra-sentra  produksi  kegiatan  basis  disetiap  lingkungan  yang berfungsi  sebagai  sentra  pengumpul  dan  pusat  pemasaran  sehingga  tercapai penghematan biaya (economic of scales).

*)Mahasiswa Program Studi Agrobisnis Perikanan Faperika - Universitas Riau 

   Skripsi @ Hak Cipta milik UR, tahun 2009                                                       Hak Cipta dilindungi Undang-undang

 

 

Publikasi Ilmiah

 

2. Karya Ilmiah (Tesis S2)

         

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN EKONOMI PERIKANAN TUNA LONGLINE BERPERSPEKTIF MITIGASI BENCANA DI PADANG, SUMATERA BARAT 

Oleh : Tomi Ramadona*) 

  

Kota Padang memiliki perairan laut seluas 720 km² dengan panjang pantai 68,126 km. Kontribusi yang dihasilkan subsektor perikanan terhadap perekonomian daerah sebagian besar berasal dari perikanan tangkap. Perikanan tangkap menghasilkan nilai sebesar Rp. 218.495.600.000, atau sekitar 83 persen dari total nilai produksi perikanan Kota Padang secara keseluruhan (DKP Sumbar, 2011). Besarnya nilai produksi perikanan tangkap tidak terlepas dari tingginya nilai kontribusi yang dihasilkan jenis ikan tuna. Sumberdaya tuna merupakan komoditi unggulan perikanan Kota Padang. Jenis tuna yang didaratkan di Kota Padang adalah Tuna Mata Besar/bigeye (Thunus obesus) dan Tuna Sirip Kuning/yellowfin (Thunus albacares). Spesies yang menjadi sumberdaya ekspor Kota Padang tujuan Singapura, Jepang dan Amerika ini merupakan komoditi perikanan tangkap yang memberikan nilai kontribusi terbesar dibandingkan spesies lain, yakni sebesar Rp. 70.063.200.000 (tahun 2010) atau sekitar 24 persen dari seluruh nilai produksi perikanan Kota Padang. Melihat kontribusi yang dihasilkan, maka amatlah wajar pengembangan sumberdaya ini akan memberikan keuntungan berganda bagi perekonomian daerah secara keseluruhan. Pada sisi yang lain, Kota Padang termasuk dalam kawasan rawan bencana gempa dan tsunami, selain gempa dan tsunami masih terdapat potensi bencana pesisir lain di wilayah ini yang secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi pengembangan sumberdaya perikanan. Kota Padang merupakan wilayah dengan karakteristik perikanan yang kompleks, pada satu sisi mempunyai potensi perikanan laut yang potensial dan di sisi lain dihadapkan pada kondisi daerah yang rawan bencana. Karakteristik ini menuntut suatu kebijakan yang diharapkan mampu menyelesaikan permasalahan dalam hal pengembangan sumberdaya perikanan baik oleh faktor internal maupun eksternal. Potensi perikanan mendorong pengembangan ekonomi, sementara potensi bencana menuntut adanya tindakan mitigasi. Aktivitas pengembangan dan mitigasi ini membutuhkan investasi, sehingga diperlukan kebijakan yang komprehensif.

Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis kondisi ekonomi makro sektor perikanan di Kota Padang, menganalisis potensi keberlanjutan dan bentuk pengelolaan sumberdaya perikanan di Kota Padang ditinjau dari aspek biologi dan ekonomi, menganalisis potensi bencana serta prioritas bentuk mitigasi dalam rangka pengembangan sumberdaya perikanan di Kota Padang, menganalisis pengembangan perikanan dan kelayakan investasi berperspektif mitigasi bencana di Kota Padang, menganalisis bentuk kelembagaan terkait pengembangan sumberdaya perikanan berperspektif mitigasi bencana di Kota Padang serta merumuskan arahan kebijakan pengembangan ekonomi perikanan tangkap berperspektif mitigasi bencana di Kota Padang. Penelitian dilakukan dengan metode studi kasus dan menggunakan metode pengambilan contoh purposive sampling. Tahapan analisis data pada penelitian ini yaitu menganalisis kondisi makro ekonomi dengan analisis Shift Share, Location Quotient dan Minimum Requirement Approach, menganalisis potensi sumberdaya serta pengelolaan perikanan dengan bioekonomi, menganalisis potensi bencana serta prioritas bentuk mitigasi terkait pengambangan sumberdaya perikanan dengan studi literatur, analisis deskriptif dan MPE, menganalisis bentuk kelembagaan dengan analisis stakeholder dan analisis deskriptif serta analisis prioritas, strategi, rumusan arahan kebijakan pengembangan sumberdaya perikanan yang berkelanjutan dan berperspektif mitigasi bencana dengan teknik AHP.

Pada tahap analisis makro ekonomi,diperoleh gambaran bahwa perikanan merupakan sektor basis yang memberikan kontribusi cukup besar terhadap perekonomian Kota Padang, sehingga dapat dijadikan sebagai prioritas kebijakan pembangunan ekonomi daerah. Berdasarkan analisis bioekonomi, pemanfaatan sumberdaya perikanan di Padang khususnya tuna masih berada di bawah titik optimalnya, pada penelitian ini juga diperoleh hasil pengelolaan yang optimal adalah menggunakan rezim pengelolaan MEY atau Sole Owner dengan discount rate sebesar 16% yaitu dengan meningkatkan effort sebesar 133 trip dan produksi sebesar 418,53 ton. Analisis ini juga menyimpulkan perlu adanya penambahan armada penangkapan sebanyak 33 unit.Hasil analisis MPE mengungkapkan potensi bencana terbesar di Padang yang berdampak kuat terhadap perikanan adalah gempa bumi, tsunami, angin kencang, gelombang laut dan intrusi air laut. Arahan prioritas bentuk mitigasi adalah (1) Penyediaan GPS, APS, Aplikasi informasi bencana untuk nelayan, (2) Penyediaan sistem peringatan dini dan sistem informasi terpadu, dan (3) Pendirian bangunan pelabuhan dan prasarana perikanan lainnya yang berperspektif mitigasi bencana. Mitigasi bencana untuk pengembangan perikanan tangkap berupa penyediaan prasarana mitigasi darat dan laut yang terdiri atas penyediaan sistem peringatan dini, radar tsunami dan gelombang, pusat informasi bencana, jalur evakuasi dan assembly point, shelter pelabuhan dan tambat badai laut serta sarana mitigasi armada penangkapan. berupa penyediaan GPS, aplikasi BB/android serta radio komunikasi dan navigasi. Hasil analisis kelayakan investasi pada pengembangan usaha perikanan berperspektif mitigasi bencana, nilai NPV sebesar Rp 45.530.835.838, nilai B/C 2,40 dan IRR sebesar 54,73%. Hasil kelayakan investasi ini menyimpulkan bahwa pengembangan usaha perikanan tangkap dengan penambahan prasarana dan sarana mitigasi layak dan menguntungkan, sehingga program ini memiliki prospek untuk dikembangkan. Stakeholder yang memberi pengaruh dan terkait dalam kebijakan ini adalah KKP, DKP dan Pemerintah Daerah Kota Padang. Analisis AHP menghasilkan kesimpulan bahwa perikanan merupakan sektor prioritas yang potensial dikembangkan pada bidang kelautan Kota Padang. Analisis ini juga menguraikan bahwa prioritas kebijakan pengembangan perikanan di Kota Padang adalah penyediaan prasarana dan sarana perikanan yang kondusif dan berperspektif mitigasi bencana dengan nilai 0,203. Hasil dari serangkaian analisis menyimpulkan kebijakan yang tepat untuk diterapkan di Kota Padang yaitu optimalisasi produksi sumberdaya perikanan dengan memperhatikan faktor keberlanjutan melalui penyediaan sarana dan fasilitas perikanan yang kondusif dan berperspektif mitigasi bencana serta meningkatkan partisipasi dan sinergisitas stakeholder untuk mencapai kesejahteraan.

 *)Mahasiswa Program Studi Ekonomi Sumberdaya Kelautan Tropika IPB

   Tesis @ Hak Cipta milik IPB, tahun 2013                                                       Hak Cipta dilindungi Undang-undang

 

Time Like a Sword

Follow me

   
   
    

Upcoming Events

No upcoming events
    Other Links 

Testimonials

  • "Please, give feedback on my site :)"
    Tomi R.
    Site Owner

Space Advertisement