Tomi Ramadona

My Notes

Paradoks tuan tanah

Posted by Tomi Ramadona on January 17, 2012 at 6:40 PM

 


Di Timur tengah sana terdapat laut mati sedangkan di negeriku laut mati suri


Laut Mati adalah danau yang membujur di daerah antara Palestina dan Yordania. Sekitar 417,5 m di bawah permukaan laut, dan merupakan titik terendah di permukaan bumi. Danau ini dinamakan laut mati karena tidak ada bentuk kehidupan yang dapat bertahan dalam air garam ini. Laut mati memiliki kandungan garam tertinggi dari seluruh laut di dunia. Kadar garamnya sekitar 32 % dibandingkan kadar garam rata-rata 3% pada Laut Tengah atau Mediteranian. Dengan salinitas yang sangat tinggi ini menyebabkan siapapun yang terdampar disana akan terapung meskipun tak bisa berenang..

 

Di lain kisah, negeriku yang sangat kaya akan potensi laut, dimana laut yang seharusnya menjadi tumpuan kehidupan bangsa seolah mati suri. Rakyat yang hidup melalui laut dibiarkan menderita akibat pengelolaan dan kebijakan yang belum tepat. Laut benar-benar mati bagi sebagian orang. Sementara bangsa ini pernah memiliki sejarah yang gemilang sebagai negara maritim yang tangguh. Kerajaan Sriwijaya misalnya tercatat sebagai salah satu kekuatan maritim yang besar di Asia. Saat itu laut benar-benar mampu memberikan perannya terhadap kesejahteraan dan keamanan bangsa.

 

Sebuah anekdot konyol yang merupakan realita bangsa membuat ku tergelitik mendengarnya. Potensi perikanan terbesar terletak di wilayah timur Indonesia. Apa boleh buat potensi ini hanya sebuah teori, kenyataannya tuan rumah menjadi tamu di negeri sendiri. Distribusi dari wilayah timur ke pusat konon biayanya lebih mahal ketimbang di angkut ke negara lain. Seperti kasus ikan untuk dijual dari Ambon ke Jakarta biaya distribusinya lebih mahal dibanding dijual dari Ambon ke Jepang... Benar-benar sudah kelewatan, apanya yang salah? Apakah kementerian perhubungan?,perikanan?, Sungguh saat ini tidak patut untut mencari siapa yang salah maka alangkah bijak untuk menemukan solusinya..Sehingga jangan sampai kejadian lebih memalukan terjadi lagi, contoh kasus kapal dari China mencuri ikan di laut Papua, kemudian ikan diolah di China terus di jual ke Indonesia. Sharusnya production cost tidak bisa ditutupi oleh benefit, tapi kenyataannya praktek ini terus terjadi, artinya mereka terus untung. Lalu kenapa nelayan Indonesia tidak mampu mengambil ikan di laut miliknya sendiri untuk di jual di negara sendiri, bukankah akan jauh lebih untung?

 

Riset membuktikan salah satu penyebab terjadinya kondisi di atas ialah biaya pelabuhan Indonesia sangat mahal, sehingga berimbas pada biaya transportasi. Biaya pelabuhan ini diakibatkan oleh kebijakan peraturan dan biaya investasi di negeri kita tinggi. Oleh karenanya untuk membenahi persoalan ini perlu dicari akar masalahnya dan solusi serta sinergisitas antar departemen yang terkait. Kebijakan yang berpihak pada rakyat, berkelanjutan dan menjadikan laut sebagai mainstream perekonomian bangsa sudah lama diimpikan.

 

Ini bukanlah suatu keluhan, melainkan sebuah harapan dari seorang anak bangsa agar lautnya bisa bangun dari mati surinya..

 


Bogor, 24/2/1433

Dipublish di http://ekonomi.kompasiana.com/agrobisnis/2012/02/11/paradoks-tuan-tanah/



 

Categories: OpiniKu

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

0 Comments

Time Like a Sword

Follow me

   
   
    

Upcoming Events

No upcoming events
    Other Links 

Testimonials

  • "Please, give feedback on my site :)"
    Tomi R.
    Site Owner

Space Advertisement